Kamis, 19 Desember 2013

SEIKHLAS KASIH SAYANG YANG ABADI

         Aku Cuma punya seorang adik laki-laki. Usianya dua tahun lebih muda dariku. Suatu hari, untuk mendapatkan sehelai sapu tangan yang menjadi keperluan anak gadis ketika itu, aku nekat mengambil uang Rp. 500,- dari kantong celana ayah. Karena kupikir itu tidak terlalu masalah buat ayah.

            Petang itu, begitu pulang dari sekolah, ayah memanggil kami berdua. Dia meminta aku dan adik berdiri di tepi dinding. Aku ketakutan melihat rotan panjang di tangan ayah.

            “Siapa ambil duit ayah?” tanya ayah bagai singa lapar. Berdua kami membisu, Cuma tunduk memandang lantai.

            “Baik, kalau tak mengaku, semuanya ayah rotan!” sambung ayah sambil mengangkat tangan untuk melepaskan pukulan pertamanya ke punggungku.

            Tiba-tiba, adik menangkap tngan ayah dengan kedua tangannya sambil berkata, “Saya yang ambil!”.

            Belum sempat adik menarik nafas selepas mengungkapkan kata-kata itu, ayunan dan pukulan silih berganti menghantam tubuh adik. Walau perih menahan sakit, setitis pun air matanya tak tumpah.

            Setelah puas melihat adik tersungkur di lantai, ayah bicara : “Kamu kecil-kecil sudah mulai belajar mencuri di rumah sendiri. Apalagi perbuatan kamu yang akan memalukan ayah di luar kelak, hah?”.

            Namun adik cukup tabah. Setitis pun air matanya tak mengiringi kesakitannya. Setelah ayah meninggalkan kami dan melihat keadaan adikku, aku merung sekuat hati, menyesal dengan sikapku yang takut berkata benar.

            Adik segera menutup mulutku dengan keduua tangannya lalu berkata, “Jangan nangis kak, dah berlalu pun..”.

            Tahun silih berganti, hingga sampailah masing-masing dari kami belajar di sekolah berasrama. Pernah suatu sore di teras rumah, ada seorang temannya yang bertanya padanya,

            “Siapa wanita yang paling kau sayangi?”

            Spontan adik menjawab, “Selain ibu, kakakku..” katanya sambil menceritakan suatu kisah yang tak kuingat lagi.

            “Semasa kami sama-sama di SD, setiap hari kami berjalan kaki ke sekolah. Suatu hari tapak sepatuku lepas. Melihatku hanya memakai sepatu sebelah, kakak membuka sepatunya dan memeberikannya padakku. Dia berjalan dengan sebelah sepatuku. Sampai di rumah, kulihat kakinya berdarah sebab menginjak tunggul dan batu-batu tajam. Sejak saat itu aku berjanji akan melakukan apa saja demi kebahagian kakakku.”

            Aku yang sedang menguping di balik tirai jendela, menangis terharu sambil berdoa kepada Allah,


            “Ya Allah terima kasih Engkau telah menitipkan seorang lelaki kuat sebagai saudaraku. Berikanlah kemudahan padanya dalam menjalani segala kesulitan hidup. Aamiin....”  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar