Aku Cuma punya seorang adik laki-laki. Usianya dua tahun
lebih muda dariku. Suatu hari, untuk mendapatkan sehelai sapu tangan yang
menjadi keperluan anak gadis ketika itu, aku nekat mengambil uang Rp. 500,-
dari kantong celana ayah. Karena kupikir itu tidak terlalu masalah buat ayah.
Petang itu, begitu pulang dari
sekolah, ayah memanggil kami berdua. Dia meminta aku dan adik berdiri di tepi
dinding. Aku ketakutan melihat rotan panjang di tangan ayah.
“Siapa ambil duit ayah?” tanya ayah
bagai singa lapar. Berdua kami membisu, Cuma tunduk memandang lantai.
“Baik, kalau tak mengaku, semuanya
ayah rotan!” sambung ayah sambil mengangkat tangan untuk melepaskan pukulan
pertamanya ke punggungku.
Tiba-tiba, adik menangkap tngan ayah
dengan kedua tangannya sambil berkata, “Saya yang ambil!”.
Belum sempat adik menarik nafas
selepas mengungkapkan kata-kata itu, ayunan dan pukulan silih berganti menghantam
tubuh adik. Walau perih menahan sakit, setitis pun air matanya tak tumpah.
Setelah puas melihat adik tersungkur
di lantai, ayah bicara : “Kamu kecil-kecil sudah mulai belajar mencuri di rumah
sendiri. Apalagi perbuatan kamu yang akan memalukan ayah di luar kelak, hah?”.
Namun adik cukup tabah. Setitis pun
air matanya tak mengiringi kesakitannya. Setelah ayah meninggalkan kami dan
melihat keadaan adikku, aku merung sekuat hati, menyesal dengan sikapku yang
takut berkata benar.
Adik segera menutup mulutku dengan
keduua tangannya lalu berkata, “Jangan nangis kak, dah berlalu pun..”.
Tahun silih berganti, hingga sampailah
masing-masing dari kami belajar di sekolah berasrama. Pernah suatu sore di
teras rumah, ada seorang temannya yang bertanya padanya,
“Siapa wanita yang paling kau
sayangi?”
Spontan adik menjawab, “Selain ibu,
kakakku..” katanya sambil menceritakan suatu kisah yang tak kuingat lagi.
“Semasa kami sama-sama di SD, setiap
hari kami berjalan kaki ke sekolah. Suatu hari tapak sepatuku lepas. Melihatku
hanya memakai sepatu sebelah, kakak membuka sepatunya dan memeberikannya
padakku. Dia berjalan dengan sebelah sepatuku. Sampai di rumah, kulihat kakinya
berdarah sebab menginjak tunggul dan batu-batu tajam. Sejak saat itu aku
berjanji akan melakukan apa saja demi kebahagian kakakku.”
Aku yang sedang menguping di balik
tirai jendela, menangis terharu sambil berdoa kepada Allah,
“Ya Allah terima kasih Engkau telah menitipkan
seorang lelaki kuat sebagai saudaraku. Berikanlah kemudahan padanya dalam
menjalani segala kesulitan hidup. Aamiin....”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar