Sabtu, 13 Oktober 2012

Film yang Dirilis Minggu Kedua Oktober 2012


Minggu ini, ada beberapa film baru yang datang dari berbagai genre. Bila Anda menggemari film fiksi ilmiah, komedi, thriller, sampai drama keluarga, ada sesuatu yang baru yang dapat Anda saksikan di bioskop minggu ini. Ingin tahu film-film apa saja?

1. Looper

"Looper" (Foto: Alan Markfield/Looper, LLC.)Setelah sempat hadir dalam dua kali pemutaran tengah malam, “Looper” akhirnya dirilis secara luas di bioskop minggu ini. Film fiksi ilmiah tentang perjalanan waktu yang melibatkan kejar-kejaran antara Joseph Gordon-Levitt dan Bruce Willis ini sudah mendapat banyak pujian di Amerika Serikat. Sekarang Anda pun bisa menyaksikan film dan mencari tahu apakah “Looper” memang fenomenal seperti yang dikatakan orang-orang? Bila masih belum yakin, ada beberapa alasan yang dapat membantu Anda untuk menentukan apakah film besutan Rian Johnson ini layak disaksikan.

PLOT: Di tahun 2074, perjalanan waktu telah diciptakan. Tetapi, penggunaan mesin waktu merupakan sesuatu yang ilegal, sehingga hanya organisasi kriminal saja yang menggunakannya. Bila mafia ingin melenyapkan seseorang di masa depan, mereka akan mengirim targetnya mundur ke 30 tahun yang lalu, ketika mesin waktu belum diciptakan. Setelah sampai di masa lalu, sang target akan dihabisi oleh seorang “looper” (pembunuh spesialis yang dipekerjakan oleh mafia dari masa depan).

Joe (Joseph Gordon-Levitt) adalah seorang looper. Suatu hari, Joe diberi tugas untuk menghabisi seorang target. Tapi, berbeda dengan target-targetnya yang biasa, Joe mengenali wajah pria yang hari itu harus dibunuhnya. Target barunya ternyata adalah dirinya sendiri, Joe tua (Bruce Willis), yang dikirim dari masa depan. Dapatkah Joe muda membunuh Joe tua dan menyelesaikan tugasnya?

Sutradara: Rian Johnson
Penulis Naskah: Rian Johnson
Pemeran: Joseph Gordon-Levitt (Joe), Bruce Willis (Old Joe), Emily Blunt (Sara)
Paul Dano (Seth), Noah Segan (Kid Blue), Piper Perabo (Suzie), Jeff Daniels (Abe), Pierce Gagnon (Cid), Tracie Thoms (Beatrix), Garret Dillahunt (Jesse)
Durasi: 118 menit
Rating: R
Tanggal Rilis: 9 Oktober 2012
Produksi: DMG Entertainment, Endgame Entertainment, Ram Bergman Productions, FilmDistrict
Movie Report: "Looper"

2. Bachelorette

"Bachelorette" (Dok. BCDF Pictures)Masih ingat dengan “Bridesmaids” (2011)? “Bachelorette” yang hadir sebagai komedi dewasa dan dibintangi oleh aktris-aktris terkenal sepertinya mencoba untuk menjadi seperti film yang disutradarai oleh Paul Feig tersebut. Sayangnya, karakter yang diperankan Kirsten Dunst, Isla Fisher, Lizzy Caplan, dan Rebel Wilson tidak bisa tampil lucu dan simpatik seperti Kirsten Wiig dan gengnya. Tapi, tentu saja, selera film adalah sesuatu yang sangat pribadi. Bila Anda tak punya pilihan film lain untuk ditonton saat sedang berkumpul bersama teman-teman wanita Anda, “Bachelorette” bisa jadi merupakan pilihan yang tepat untuk disaksikan.

PLOT: Ketika teman satu SMA mereka, Becky (Rebel Wilson), memberi tahu bahwa ia akan segera menikah dengan pacarnya yang tampan, Dale (Hayes MacArthur), para anggota gengnya semasa sekolah pun berkumpul untuk menggelar pesta bujangan di New York.

Regan (Kirsten Dunst), sang pendamping mempelai, adalah wanita sukses yang diam-diam kesal karena ia bukan orang pertama yang menikah di geng mereka. Gena (Lizzy Caplan) yang cerdas dan sarkastis sebenarnya punya hati romantis. Sementara itu, Katie (Isla Fisher) adalah sosok yang suka pesta. Ketika Becky memaksa bahwa pesta bujangan mereka tak boleh sampai gila-gilaan, tiga wanita ini akhirnya memutuskan untuk bersenang-senang dengan cara mereka sendiri.

Sutradara: Leslye Headland
Penulis Naskah: Leslye Headland
Pemeran: Kirsten Dunst (Regan), Rebel Wilson (Becky), Lizzy Caplan (Gena), Isla Fisher (Katie), Hayes MacArthur (Dale), Adam Scott (Clyde), James Marsden (Trevor), Andrew Rannells (Manny), Kyle Bornheimer (Joe), Ann Dowd (Victoria), Ella Rae Peck (Stefanie)
Durasi: 87 menit
Rating: R
Tanggal Rilis: 10 Oktober 2012
Produksi: Gary Sanchez Productions, BCDF Pictures

3. The Raven

"The Raven" (Foto: Larry Horricks/Amontillado Productions, LLC.)Premis dari “The Raven” sebenarnya sangat menjanjikan. Penonton juga sering menyambut baik drama gothic dengan balutan kisah pembunuh berantai sadis yang sosoknya misterius. Namun, dengan naskah yang lemah dan penampilan John Cusack yang kurang meyakinkan sebagai sang legenda sastra, “The Raven” gagal menjadi cerita horor yang serius. Tapi, kalau Anda penggemar berat film-film detektif seperti “From Hell” (2001) atau “Sherlock Holmes” (2009), “The Raven” bisa jadi alternatif tontonan yang cukup menarik minggu ini.

PLOT: Misteri meliputi Baltimore ketika seorang pembunuh sadis hadir di kota tersebut dan korban pun mulai berjatuhan. Anehnya, pembunuhan yang terjadi sangat mirip dengan kisah-kisah yang ditulis oleh Edgar Allan Poe (John Cusack).

Detektif Fields (Luke Evans) yang menjadi penyelidik kasus ini kemudian memanggil Poe dan meminta bantuannya untuk menemukan sang pembunuh. Tapi, kejar-kejaran antara sang pembunuh dan tim penyelidik menjadi makin berbahaya saat Poe menyadari bahwa target pembunuhan yang berikutnya adalah Emily Hamilton (Alice Eve), kekasihnya sendiri.

Sutradara: James McTeigue
Penulis Naskah: Ben Livingston, Hannah Shakespeare
Pemeran: John Cusack (Edgar Allan Poe), Luke Evans (Detective Fields), Alice Eve (Emily Hamilton), Brendan Gleeson (Captain Hamilton), Kevin McNally (Maddux), Oliver Jackson-Cohen (John Cantrell), Jimmy Yuill (Captain Eldridge), Sam Hazeldine (Ivan), Pam Ferris (Mrs. Bradley), Brendan Coyle (Reagan), Adrian Rawlins (Doc Clements)
Durasi: 110 menit
Rating: R
Tanggal Rilis: 10 Oktober 2012
Produksi: Intrepid Pictures, FilmNation Entertainment, Galavis Film, Pioneer Pictures, Relativity Media
Kata John Cusack Tentang "The Raven"

4. Cita-citaku Setinggi Tanah

"Cita-citaku Setinggi Tanah" (Foto: Widya Sartika Amrin)Bila Anda hanya punya waktu menonton satu film lokal baru minggu ini, lupakan rasa penasaran Anda untuk menyaksikan film horor yang dibintangi oleh sang suster gaib dan cobalah untuk melirik “Cita-Citaku Setinggi Tanah”. Meski dibintangi oleh anak-anak kecil, film karya Eugene Panji ini tidak hanya menarik bagi para penonton muda. Dengan cerita yang sederhana, “Cita-Citaku Setinggi Tanah” berusaha untuk menampilkan sebuah kisah yang mengena. Selain itu, hasil bersih dari penjualan tiket film ini akan didonasikan pada Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), sebuah lembaga yang membantu masyarakat untuk memperoleh informasi atau perawatan bagi anak penderita kanker.

PLOT: Agus yang berasal dari keluarga sederhana di Muntilan, Jawa Tengah, adalah putra dari seorang karyawan pabrik tahu dan ibu rumah tangga. Di sekolah, Agus ditugaskan gurunya membuat karangan bertema cita-cita. Agus pun gelisah karena cita-citanya hanya ingin makan di restoran Padang, sementara teman-temannya yang lain punya cita-cita setinggi langit. Agus pun menjadi bahan tertawaan di kelasnya. Tapi, Agus tetap ingin memenuhi cita-citanya. Makan di restoran Padang tentu saja butuh uang banyak. Karena itu ia pun mulai mencari cara untuk mendapatkannya.

Sutradara: Eugene Panji
Penulis: Satriono
Pemeran: M. Syihab Imam Muttaqin (Agus), Rizqullah Maulana Daffa (Jono), Iqbal Zuhda Irsyad (Puji), Dewi Wulandari Cahyaningrum (Mey/Sri), Agus Kuncoro (Bapak Agus), Nina Tamam (Ibu Agus), Iwuk Tamam (Nenek Agus), Donny Alamsyah, Luh Monika Sokananta
Durasi: 82 menit
Rating: Semua Umur
Tanggal Rilis: 11 Oktober 2012
Produksi: Humanplus Production

Rabu, 02 Mei 2012

Book Review: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah


BOOK review 
Started on: 30.January.2012
Finished on: 31.January.2012

Judul Buku : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere-Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 512 Halaman
Tahun Terbit: 2012
 --------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Sungguh, meski melanggar wasiat Bapak, aku berjanji akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras - meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit."
Itulah janji yang diucapkan oleh Borno, seorang pemuda berusia 22 tahun yang tinggal di Pontianak. Kisah ini adalah cerita tentang seorang pemuda biasa, yang sepertinya tidak istimewa, namun sesungguhnya ia adalah seorang bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas.

Buku ini dimulai ketika Borno masih berusia 12 tahun; saat Borno kehilangan Ayahnya, yang ketika bekerja mencari ikan tersengat ubur-ubur. Meskipun sudah diberi pertolongan sesegera mungkin, sayangnya nyawa Ayah Borno tak dapat diselamatkan. Dan betapa mulianya hati Ayah Borno. Beliau mendonorkan jantungnya bagi seseorang yang membutuhkan donor sebelum meninggal. Ia bahkan tidak meminta uang sepeser pun dari orang tersebut, hanya menitipkan sisa kehidupan yang ia miliki. Hebatnya, Borno mewarisi kebaikan dan ketulusan hati Ayahnya.

Usia Borno beranjak 22 tahun; ia sudah lulus SMA, namun tidak melanjutkan kuliah karena tidak memiliki biaya. Jadilah ia kesana-kemari mencari pekerjaan; menjadi pegawai di pabrik karet (akan tetapi tak lama kemudian pabrik tersebut tutup), bekerja di SPBU, bekerja sebagai penerima tiket di kapal feri, namun tidak ada satupun pekerjaan yang bertahan. Hal ini kemudian membawa Borno kepada takdirnya; takdir yang akan mengubah hidupnya: bekerja sebagai pengemudi sepit.

Sepit (dari kata speed) adalah sebuah perahu kayu, transportasi yang cukup sering digunakan untuk menyeberangi Sungai Kapuas. Melalui sepit pula, Borno bertemu seseorang yang sangat menggugah hatinya. Hari itu adalah hari pertama Borno mengemudikan sepit, dan gadis peranakan Cina itupun duduk di atas sepit yang dikendarai Borno. Segalanya terasa seperti takdir ketika Borno menemukan sebuah amplop merah yang tertinggal di dasar sepitnya. Tanpa menunggu lama, Borno mencari gadis itu, dan akhirnya berhasil menemukannya. Pada saat yang sama, sepertinya ia menemukan cinta.

"Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya.... Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan."

Gadis itu bernama Mei, seorang gadis yang mengajar di sebuah yayasan. Bersama Mei, Borno merasakan apa yang banyak orang sebut sebagai jatuh cinta; tentu saja penuh dengan pahit dan manisnya. Dimulai dari ketika Borno bahkan begitu sulit menanyakan nama gadis itu, malu-malu mengajari Mei mengendarai sepit, bahkan berkeliling Surabaya - tempat gadis itu tinggal. Akan tetapi tidak jarang juga Borno dikecewakan, ketika Mei tanpa kata membatalkan janji, sewaktu gadis itu menghilang tanpa kabar dan tidak mau menemui Borno lagi.

Dalam buku inilah Borno menceritakan kisah cintanya. Kisah cinta yang sebenarnya sederhana, namun siapapun yang membaca dapat merasa bahwa perasaan itu benar-benar tulus adanya. Namun Borno harus mengetahui, alasan mengapa Mei berhenti menemui Borno; alasan mengapa ia menuliskan kalimat yang menghancurkan hati lelaki itu.

"Maafkan aku, Abang. Seharusnya aku tidak pernah menemui Abang."

Sebenarnya cukup sulit menulis review untuk buku ini, karena ringkasan cerita di atas mungkin hanya menceritakan sebagian dari apa yang ada dalam novel ini. Sungguh novel ini bukan hanya sekadar kisah cinta biasa; namun di dalamnya banyak sekali pelajaran berharga yang bisa dipelajari. Tak hanya kisah cinta, buku ini juga menceritakan arti sahabat, arti kekeluargaan meskipun tak dari suku ataupun keluarga yang sama. Setiap karakter dalam buku ini memiliki keunikan mereka masing-masing, benar-benar membuat pembaca mengenal mereka secara pribadi :)

Karakter favorit pertamaku dalam buku ini tentu saja adalah Pak Tua. Meskipun sudah berumur, namun dari caranya berbicara dan kebijaksanaannya, aku seketika merasa bahwa Pak Tua adalah sosok yang layak untuk dihormati. Meskipun Pak Tua hanyalah karakter fiktif, namun begitu banyak hal yang aku pelajari dari karakter ini. Berikut beberapa kutipan favoritku :)

"Kau tahu, Borno. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, di bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah hatimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang."
"Kau tahu, kebiasaan mengunyah permen itu sudah ada sejak mereka kecil, dan sejak mereka kecil pulalah si Fulani yang membuka bungkusnya, menyerahkannya pada si Fulan. Sudah puluhan ribu permen, tidak pernah bosan, selalu dilakukan dengan mesra. Jangan tanya definisi cinta sejati pada mereka, Andi. Mereka tidak pandai bersilat lidah, mereka buta. Tapi lihatlah keseharian mereka, maka kau bisa melihat cinta. Bukan cinta gombal, melainkan cinta yang diwujudkan melalui perbuatan."
"Kau lupa, Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kauabaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan."

"Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan."

Karakter favorit yang lain adalah Borno, Bang Togar, dan Andi. Borno, tentu saja karena sifatnya yang menurutku patut dijadikan teladan. Borno selalu melakukan segala sesuatu dengan hati yang tulus, membuatnya begitu disukai orang banyak. Bang Togar, yang meskipun terkadang galak dan usil, sebenarnya memiliki hati yang baik dan setia kawan. Sedangkan Andi, yang adalah sahabat baik Borno, selalu berhasil menghibur dengan selera humornya. Ikatan persahabatannya dengan Borno, tentu tidak perlu diragukan lagi.

Buku ini sungguh luar biasa. Bukan cerita yang unik penuh imajinasi; hanya kisah seorang pengemudi sepit yang menjalani hidupnya. Namun sangat banyak hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan orang lain :)

"Jangan sekali-kali kaubiarkan prasangka jelek, negatif, buruk, apalah namanya itu muncul di hati kau. Dalam urusan ini, selalulah berprasangka positif. Selalulah berharap yang terbaik."