BOOK review
Started on: 30.January.2012
Finished on: 31.January.2012
Finished on: 31.January.2012
Judul Buku : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere-Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 512 Halaman
Tahun Terbit: 2012
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Sungguh, meski melanggar wasiat Bapak, aku berjanji akan jadi orang baik, setidaknya aku tidak akan mencuri, tidak akan berbohong, dan senantiasa bekerja keras - meski akhirnya hanya jadi pengemudi sepit."
Itulah janji yang diucapkan oleh Borno,
seorang pemuda berusia 22 tahun yang tinggal di Pontianak. Kisah ini
adalah cerita tentang seorang pemuda biasa, yang sepertinya tidak
istimewa, namun sesungguhnya ia adalah seorang bujang dengan hati paling lurus sepanjang tepian Kapuas.
Buku ini dimulai ketika Borno masih berusia 12 tahun; saat Borno kehilangan Ayahnya, yang ketika bekerja mencari ikan tersengat ubur-ubur. Meskipun sudah diberi pertolongan sesegera mungkin, sayangnya nyawa Ayah Borno tak dapat diselamatkan. Dan betapa mulianya hati Ayah Borno. Beliau mendonorkan jantungnya bagi seseorang yang membutuhkan donor sebelum meninggal. Ia bahkan tidak meminta uang sepeser pun dari orang tersebut, hanya menitipkan sisa kehidupan yang ia miliki. Hebatnya, Borno mewarisi kebaikan dan ketulusan hati Ayahnya.
Usia Borno beranjak 22 tahun; ia sudah lulus SMA, namun tidak melanjutkan kuliah karena tidak memiliki biaya. Jadilah ia kesana-kemari mencari pekerjaan; menjadi pegawai di pabrik karet (akan tetapi tak lama kemudian pabrik tersebut tutup), bekerja di SPBU, bekerja sebagai penerima tiket di kapal feri, namun tidak ada satupun pekerjaan yang bertahan. Hal ini kemudian membawa Borno kepada takdirnya; takdir yang akan mengubah hidupnya: bekerja sebagai pengemudi sepit.
Sepit (dari kata speed) adalah sebuah perahu kayu, transportasi yang cukup sering digunakan untuk menyeberangi Sungai Kapuas. Melalui sepit pula, Borno bertemu seseorang yang sangat menggugah hatinya. Hari itu adalah hari pertama Borno mengemudikan sepit, dan gadis peranakan Cina itupun duduk di atas sepit yang dikendarai Borno. Segalanya terasa seperti takdir ketika Borno menemukan sebuah amplop merah yang tertinggal di dasar sepitnya. Tanpa menunggu lama, Borno mencari gadis itu, dan akhirnya berhasil menemukannya. Pada saat yang sama, sepertinya ia menemukan cinta.
Buku ini dimulai ketika Borno masih berusia 12 tahun; saat Borno kehilangan Ayahnya, yang ketika bekerja mencari ikan tersengat ubur-ubur. Meskipun sudah diberi pertolongan sesegera mungkin, sayangnya nyawa Ayah Borno tak dapat diselamatkan. Dan betapa mulianya hati Ayah Borno. Beliau mendonorkan jantungnya bagi seseorang yang membutuhkan donor sebelum meninggal. Ia bahkan tidak meminta uang sepeser pun dari orang tersebut, hanya menitipkan sisa kehidupan yang ia miliki. Hebatnya, Borno mewarisi kebaikan dan ketulusan hati Ayahnya.
Usia Borno beranjak 22 tahun; ia sudah lulus SMA, namun tidak melanjutkan kuliah karena tidak memiliki biaya. Jadilah ia kesana-kemari mencari pekerjaan; menjadi pegawai di pabrik karet (akan tetapi tak lama kemudian pabrik tersebut tutup), bekerja di SPBU, bekerja sebagai penerima tiket di kapal feri, namun tidak ada satupun pekerjaan yang bertahan. Hal ini kemudian membawa Borno kepada takdirnya; takdir yang akan mengubah hidupnya: bekerja sebagai pengemudi sepit.
Sepit (dari kata speed) adalah sebuah perahu kayu, transportasi yang cukup sering digunakan untuk menyeberangi Sungai Kapuas. Melalui sepit pula, Borno bertemu seseorang yang sangat menggugah hatinya. Hari itu adalah hari pertama Borno mengemudikan sepit, dan gadis peranakan Cina itupun duduk di atas sepit yang dikendarai Borno. Segalanya terasa seperti takdir ketika Borno menemukan sebuah amplop merah yang tertinggal di dasar sepitnya. Tanpa menunggu lama, Borno mencari gadis itu, dan akhirnya berhasil menemukannya. Pada saat yang sama, sepertinya ia menemukan cinta.
"Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya.... Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan."
Gadis itu bernama Mei, seorang gadis yang mengajar di sebuah yayasan. Bersama Mei, Borno merasakan apa yang banyak orang sebut sebagai jatuh cinta; tentu saja penuh dengan pahit dan manisnya. Dimulai dari ketika Borno bahkan begitu sulit menanyakan nama gadis itu, malu-malu mengajari Mei mengendarai sepit, bahkan berkeliling Surabaya - tempat gadis itu tinggal. Akan tetapi tidak jarang juga Borno dikecewakan, ketika Mei tanpa kata membatalkan janji, sewaktu gadis itu menghilang tanpa kabar dan tidak mau menemui Borno lagi.
Dalam buku inilah Borno menceritakan kisah cintanya. Kisah cinta yang sebenarnya sederhana, namun siapapun yang membaca dapat merasa bahwa perasaan itu benar-benar tulus adanya. Namun Borno harus mengetahui, alasan mengapa Mei berhenti menemui Borno; alasan mengapa ia menuliskan kalimat yang menghancurkan hati lelaki itu.
"Maafkan aku, Abang. Seharusnya aku tidak pernah menemui Abang."
Sebenarnya cukup sulit menulis review untuk buku ini, karena ringkasan cerita di atas mungkin hanya menceritakan sebagian dari apa yang ada dalam novel ini. Sungguh novel ini bukan hanya sekadar kisah cinta biasa; namun di dalamnya banyak sekali pelajaran berharga yang bisa dipelajari. Tak hanya kisah cinta, buku ini juga menceritakan arti sahabat, arti kekeluargaan meskipun tak dari suku ataupun keluarga yang sama. Setiap karakter dalam buku ini memiliki keunikan mereka masing-masing, benar-benar membuat pembaca mengenal mereka secara pribadi :)
Karakter favorit pertamaku dalam buku ini tentu saja adalah Pak Tua. Meskipun sudah berumur, namun dari caranya berbicara dan kebijaksanaannya, aku seketika merasa bahwa Pak Tua adalah sosok yang layak untuk dihormati. Meskipun Pak Tua hanyalah karakter fiktif, namun begitu banyak hal yang aku pelajari dari karakter ini. Berikut beberapa kutipan favoritku :)
"Kau tahu, Borno. Perasaan adalah perasaan, meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, di bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat. Hebat sekali benda bernama perasaan itu. Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah hatimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang."
"Kau tahu, kebiasaan mengunyah permen itu sudah ada sejak mereka kecil, dan sejak mereka kecil pulalah si Fulani yang membuka bungkusnya, menyerahkannya pada si Fulan. Sudah puluhan ribu permen, tidak pernah bosan, selalu dilakukan dengan mesra. Jangan tanya definisi cinta sejati pada mereka, Andi. Mereka tidak pandai bersilat lidah, mereka buta. Tapi lihatlah keseharian mereka, maka kau bisa melihat cinta. Bukan cinta gombal, melainkan cinta yang diwujudkan melalui perbuatan."
"Kau lupa, Borno. Kalau hati kau sedang banyak pikiran, gelisah, kau selalu punya teman dekat. Mereka bisa jadi penghiburan, bukan sebaliknya tambah kauabaikan. Nah, itulah tips terhebatnya. Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan."
"Berasumsi dengan perasaan, sama saja dengan membiarkan hati kau diracuni harapan baik, padahal boleh jadi kenyataannya tidak seperti itu, menyakitkan."
Karakter favorit yang lain adalah Borno, Bang Togar, dan Andi. Borno, tentu saja karena sifatnya yang menurutku patut dijadikan teladan. Borno selalu melakukan segala sesuatu dengan hati yang tulus, membuatnya begitu disukai orang banyak. Bang Togar, yang meskipun terkadang galak dan usil, sebenarnya memiliki hati yang baik dan setia kawan. Sedangkan Andi, yang adalah sahabat baik Borno, selalu berhasil menghibur dengan selera humornya. Ikatan persahabatannya dengan Borno, tentu tidak perlu diragukan lagi.
Buku ini sungguh luar biasa. Bukan cerita yang unik penuh imajinasi; hanya kisah seorang pengemudi sepit yang menjalani hidupnya. Namun sangat banyak hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan orang lain :)
"Jangan sekali-kali kaubiarkan prasangka jelek, negatif, buruk, apalah namanya itu muncul di hati kau. Dalam urusan ini, selalulah berprasangka positif. Selalulah berharap yang terbaik."

